jump to navigation

suatu pagi di yogyakarta Desember 26, 2009

Posted by triyonoraharjo in diariku.
trackback

sudah tiga kali dalam sebulan ini aku pulang ke kampungku di jogja, perjalanan yang tidaklah murah, tetapi aku tidak pernah merasa rugi karenanya, bagiku biaya yang harus kukeluarkan untuk itu belum sebanding dengan kebahagiaan yang diperoleh, bertemu bapak ibu dan adik-adik sampai melewati tempat-tempat yang pernah bersejarah dalam hidup aku.

pagi ini kubuka daun jendela kamarku, hari masih gelap, tak terlihat dan terdengar keramaian yang biasa aku dengar pada saat yang sama di tempat yang berbeda di jakarta, damai sekali, ingin rasanya liburan terus seperti ini, tetapi gaji tetap dibayar rutin setiap bulannya,hahaha ngimpi :) selepas sholat shubuh dan bantu-bantu ibu, kuajak beliau pergi berziarah ke pusara almarhumah nenekku yang berjarak kira-kira 13 km dari rumah bapak ibu, jalanan masih belum begitu ramai,  kulihat banyak orang bersepeda membawa banyak bawaan (kronjot kalau orang jawa bilang) sepertinya mereka mau pergi berdagang ke pasar, maklum di kotagede hari ini hari sedang pasaran, jadi ramai sekali, wajah-wajah mereka tampak ceria dan optimis padahal berapa sih keuntungan bersih yang biasa didapat dari berjualan tersebut, begitulah sisi positif orang-orang di desa, mereka tidak pernah ngoyo dan neko-neko dalam hidupnya, bagi mereka bisa makan sehari-hari saja sudah cukup tidak peduli seberapa keras mereka harus bekerja, sebuah semangat yang harusnya aku tiru, yang karena pertolongan allah memperoleh rizki yang sedikit lebih baik dari mereka, duduk nyaman di kantor dibuai semburan udara ac yang sejuk, hmm, mestinya aku malu pada diriku sendiri.

tanah pusara nenek masih basah, sepertinya kemarin baru ada yang berziarah, saat kubacakan doa untuk beliau teringat olehku kali terakhir aku bertemu semasa beliau masih hidup lebaran yang lalu, bagaimana aku terharu mendengar doa beliau (aku cuma bisa bergumam dalam hati, semoga aku bisa segera menikah, amiin), begitulah nenekku yang selalu mendoakan cucu-cucunya. teringat juga bagaimana dulu waktu aku membantu membereskan puing-puing rumah nenekku yang rusak parah terkena gempa, saat itu aku sedang menganggur dan menjalani test di tempat kerjaku sekarang, “mugo-mugo ndang oleh gawean yo le (semoga cepat dapat pekerjaan ya nak)” begitu doa nenekku waktu itu, aku selalu percaya kekuatan doa, dan alhamdulillah beberapa bulan setelahnya aku berhasil diterima bekerja setelah melalui hampir satu tahun proses seleksi yang melelahkan. memang tidak banyak waktu yang kujalani bersama beliau, terlebih dahulu dari kecil sampai kelas dua sma aku tinggal jauh mengikuti orang tuaku merantau di luar jawa, praktis hanya satu tahun aku benar-benar tinggal serumah dengan nenek waktu kami kembali ke jogja dan belum memiliki tempat tinggal yang baru, aku menemukan sosok yang benar-benar sama seperti ibu dalam diri nenekku, beliau pekerja keras, bahkan di usia senjanya beliau masih rajin menjaga satu-satunya warung tempat keluarga nenek mencari nafkah waktu itu, pagi-pagi beliau sudah menggoreng tempe dan tahu untuk dijual di warung, aku tertawa mengingatnya, dulu setiap sarapan pagi aku selalu makan nasi putih dengan gorengan tempe itu, nyaris tidak pernah dengan yang lain, aku sayang sama nenek :)

selepas berziarah kuajak ibuku berkeliling desa, maklumlah tidak setiap hari aku bisa datang kesini, terlebih sejak keluargaku pindah menetap di kotagede 8 tahun yang lalu, jalanannya masih sama seperti dulu, hanya sebagian jalan saja yang sudah diaspal mulus dan semakin banyak rumah yang dibangun, aku senang melihat perubahan ini, tambah ramai rasanya, dulu waktu masih tinggal di rumah nenek, hampir setiap sore selepas pulang sekolah aku berkeling desa dengan sepeda, nyaman sekali  walaupun capek juga sih mengayuh sepedanya, ya maklum dulu di rumah nenek hanya punya satu kendaraan bermotor dan itupun digunakan sepupuku sehari-harinya, disamping karena aku belum bisa mengendarai motor tentunya (hehehe jangan diketawain ya aku baru bisa naik motor saat aku berusia 21 tahun dan kuliah semester 5). sungguh kenangan yang sangat indah untuk dikenang.

jogjakarta, kota yang begitu bermakna untukku, aku memang tidak terlahir di kota ini namun sepertinya sebagian hatiku sudah kuberikan untuknya, kota yang menjadi saksi aku bertumbuh dewasa dengan segala suka dukanya, kota tempat pertama kali aku jatuh cinta dan semua kenangan semua kisah cintaku, merasakan arti persahabatan yang sesungguhnya dan makna dari sebuah kesederhanaandan kebersahajaan. kurindukan setiap pagi aku bisa ada di kota ini :)

Komentar»

1. naraku - Desember 28, 2009

slalu ada saja cerita tentang jogjakarta… hmmmmmmmmmm…


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.